BELAJAR HIDUP

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

Ditulis oleh taufik16ma di/pada November 3, 2009

Di kalangan penuntut ilmu di pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan terkenal di kalangan mereka karana sebagian besar daripada sanad keilmuan para ulama Nusantara (Malaysia, Indonesia dan Fathoni) bersambung kepada ulama besar ini. Dan di kalangan para ulama ia sangat terkenal sebagai ulama seorang pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam perselisihan dengan Wahabi.

Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Khalilurrahman al- Kiranawi al-Hindi al-Utsmani (lahir 1226H/1811M, wafat malam Jumaat, 22 Ramadan 1308H/2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan memperkenalkan kepada pemerintah Makkah. Seterusnya memberi ijin untuk Syeikh Rahmatullah membuka Madrasah Shaulatiyah.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haramain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari nasab yang mulia, ahlul bait Rasulullah melalui keturunan Sayyiduna Hasan, cucu kesayangan Rasulullah. Berdasarkan kepada kitab “Taajul-A’raas”, juzuk 2, mukasurat 702 karya al-Imam al-’Allaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib ‘Ali bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja’faar al-’Aththaas. Nasabnya adalah seperti berikut :

Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syeikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi s.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matUllah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhaab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az- Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al- Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul.

Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H/1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia kemudian dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi‘i, merangkap Syeikh al- Haram yaitu “pangkat” ulama tertinggi yang mengajar di Masjid Al-Haram yang diangkat oleh Syeikh al-Islam yang berkedudukan di Istanbul, Ibukota Khilafah Islam Turki Ottoman.

Beliau sangat terkenal, dan berawal dari itulah maka beliau diberi berbagai gelar dan julukan antaranya al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syeikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syeikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi – Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam – wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik).

Murid beliau Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rahman” antara lain menulis : “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (7 qiraah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiraah 7. Kerana cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qari untuk mengajar ilmu ini, beliau khawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajar terus.”

Murid-muridnya

Diantara ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah :

·Kyai Nawawi Banten
·Kyai Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi
·Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni menurut satu riwayat
·Kyai Muhammad Saleh Darat
·Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
·Sayyid Utsman Betawi                       <— Mufti Betawi
·Tuan Hussin Kedah
·Syeikh Ahmad Yunus Lingga,
·Sayyid Abdullah az-Zawawi, Mufti Syafiiyyah, Mekah,
·Datuk Hj Ahmad Ulama Brunei,
·Tok Wan Din, nama yang sebenar ialah Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,
·Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni
·Syeikh Abdul Hamid Kudus,
·Kyai Muhammad Kholil Bangkalan Madura.
·Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,
·Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani,
·Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdur Rahman bin ‘Utsman al Fathoni
·Tuan Kisa-i’ Minangkabawi atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh.
·Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus
·Syeikh Utsman Sarawak
·Syeikh Abdul Wahab Rokan dan ramai lagi.

Selain itu banyak lagi ulama di Nusantara yang bersambung sanad keilmuan mereka kepada murid Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yaitu Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dan Syeikh Ahmad al Fathoni. Bahkan Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni juga merupakan murid Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi. Dan murid Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara sangatlah banyak.

Karya-karya Beliau

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang ulama yang produktif. Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan kitab yang sangat banyak, diantara nya :

1. al-Futuhatul Islamiyyah;
2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;
3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;
4. al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;
5. ad-Durarus Saniyyah fi raddi ‘alal Wahhabiyyah (Mutiara-mutiara bernilai tinggi yg membawa penolakan terhadap faham Wahhabi) <– memuat kumpulan surat2 dan risalah Muh Bin Abd Wahab yang berisi takfir (mengkafirkan) serta hujjah yang membantah paham2 Wahhabi yg mengkafirkan : ziarah kubur, tawasul, tabaruk, istighosah
6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;
7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul ‘Abidin;
8. Hasyiah Matan Samarqandi;
9. Risalah al-Isti`araat;
10. Risalah I’raab Ja-a Zaidun;
11. Risalah al-Bayyinaat;
12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;
13. Shirathun Nabawiyyah;
14. Mukhtasor Jiddan, Syarah Ajrumiyyah;
15. Fathul Jawad al-Mannan;
16. al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;
17. Manhalul ‘Athsyaan;

Setelah pengabdiannya di Makkah, Saiyyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani berangkat ke kota Madinah, karana suasana di kota Makkah kurang aman (karena pergolakan gerakan Wahabi) dan beliau wafat di kota Madinah pada 1304H/1886M dan dimakamkan disana. Semoga Allah sentiasa mengasihi dan merahmati Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani

Ditulis dalam ISLAM | Bertanda: | Leave a Comment »

TIPS-TIPS UNTUK MEMULAI MENGHAFALKAN ALQUR’AN

Ditulis oleh taufik16ma di/pada Oktober 16, 2009

bismillah…
TIPS-TIPS UNTUK MEMULAI MENGHAFALKAN ALQUR’AN
1. Tentukan skala prioritas. Di level mana kemampuan kita.
Jika bacaan masih kurang sempurna, utamakan membaca dan tangguhkan menghafal serta muroja’ah. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kontinuitas interaksi kita. Seringkali seseorang mudah menyerah karena dia selalu ingin terburu-buru dalam banyak hal. Padahal kelancaran bacaan dan pembiasaannya merupakan faktor utama dalam menghafal Al Qur’an.

Jika antum termasuk yang mulai menghafal, untuk sementara membaca Al Qur’an boleh dikurangi kecuali ayat dan surat yang akan dihafal, tapi mulailah seimbangkan antara menghafal dengan muroja’ah. Muroja’ah merupakan aktivitas yang [seringkali] lebih berat dibanding menghafal. Maka harus dilatih secara intens.

Dan jika hafalan sudah banyak, utamakan muroja’ah dibanding menambah hafalan baru [kecuali kita berada di lingkungan khusus, seperti di pesantren, misalnya]. Hal ini untuk menjaga hafalan kita yang lama. Jangan sampai kita menambah hafalan baru tapi melupakan hafalan lama. Intinya adalah kesabaran dan jangan tergesa-gesa.

2. Tentukan waktu wajib.
Cari waktu kita dalam sehari yang merupakan waktu paling luang dan paling efektif untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Dalam arti, di waktu tersebut tidak ada hal-hal lain yang akan mengganggu aktivitas kequr’anan kita. Lalu, patuhi waktu wajib tersebut. jika kita melanggarnya [tidak berinteraksi pada waktu tersebut], usahakan untuk mengqadha sebagai bentuk keseriusan kita.

Waktu wajib bagi setiap orang tentu berbeda. Ada yang sebelum subuh, ada yang di waktu istirahat kantor, ada yang sebelum tidur, ada yang tiap ba’da shalat. Semuanya bergantung pada aktivitas kita. Yang jelas waktu khusus itu harus ada.

Tapi usahakan untuk menyediakan beberapa saat [meski cuma seperempat jam, misalnya] di sepertiga malam kita. Itulah waktu yang paling utama.

3. Ukur kemampuan kita.
Cobalah ukur dulu kemampuan tilawah/menghafal kita dengan membaca/menghafal di saat kondisi kita sedang normal. Titik di mana kita mulai merasa lelah, di sanalah kemampuan kita saat itu. Mungkin ada yang baru satu halaman sudah kehilangan konsentrasi, ada yang satu juz masih bersemangat. Itulah jumlah waktu interaksi kita dalam sehari pada saat itu. Ada yang setengah jam, satu jam.

Tapi ingat, jangan mengukur dengan “kekuatan kita saat bersemangat”, karena kita faham bahwa kondisi kita naik turun. Tapi juga jangan menggunakan standar yang terlalu sedikit, karena khawatir kita tidak terdorong untuk bekerja keras.

Untuk seseorang yang bekerja, misalnya. Jika dia sedang fokus pada belajar membaca, maka mulailah dari satu lembar perhari. Jika waktunya lebih luang, bisa dimulai dengan jumlah yang lebih banyak. Setelah satu bulan dan terlihat istiqomah, mulailah tambah secara bertahap. Lebih baik jika tilawahnya itu tercatat.

4. Sekarang mulailah!
Satu niat baik tidak akan berkembang jika tidak direalisasikan. Setelah antum menentukan skala prioritas, menentukan waktu wajib, dan menyesuaikannya dengan kemampuan kita, maka segeralah mulai dengan segera:

- Jika antum sedang belajar membaca
Porsi tilawah harus lebih banyak. Jangan terburu-buru untuk menghafal. Jika waktu wajib antum satu jam, misalnya, maka bagi tigalah waktu tersebut:
— setengah jam untuk tilawah yang mengutamakan jumlah yang banyak.
— seperempat jam untuk tilawah yang memfokuskan pada tajwid [cukup satu/dua halaman yang diulang secara tartil]
— seperempat jam untuk tilawah yang disertai terjemahan [lebih baik lagi jika kita memahami ayat secara langsung]

- Jika antum sudah mulai menghafal
Waktu interaksi idealnya sudah meningkat. Kita asumsikan saja dua jam. Jika kita bagi tiga:
— setengah jam untuk menambah hafalan baru
— setengah jam untuk tilawah biasa
— satu jam untuk muroja’ah: murojaa’ah sekilas dan muroja’ah tarsikh [yakni muroja'ah yang jumlahnya sedikit tapi berkualitas, sehingga ayat yang dimuroja'ah tarsikh selalu siap diuji]

- Jika hafalan sudah banyak
Waktu interaksi lebih meningkat lagi. Dengan jumlah muroja’ah mendominasi waktu kita.

5. Istiqomah.
Niatkanlah bahwa kita melakukan semua ini sebagai sebuah ibadah. Seperti halnya shalat. Kita telah melakukannya puluhan tahun dan kita terus melaksanakannya. Karena kita meyakini kewajiban dan keutamaannya. Atau kita yang sudah bekerja bertahun-tahun, setiap hari melakukan rutinitas yang sama, tapi kita tetap istiqomah, karena kita benar-benar membutuhkannya.

Perasaan semacam ini harus benar-benar dihadirkan, karena membaca dan menghafal Al Qur’an adalah aktivitas seumur hidup. Ukurannya adalah kematian kita. Jadi, bersabarlah!

Demikian yang disampaikan oleh Ust. Abdul Aziz Abdur Rouf dan Ust. Ahmad Muzzammil kepada kami.
Wallahu A’lAM.

source: myquran.org

Ditulis dalam ISLAM | Bertanda: | 1 Komentar »

Menu makanan Rasulullah

Ditulis oleh taufik16ma di/pada Oktober 9, 2009

Rasulullah saw membuka menu sarapannya dengan air dingin yang dicampur dengan madu. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh.

Pada dasarnya madu bisa menjadi obat atas berbagai penyakit. Madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir, luka bakar, dan peradangan.

Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw menjelang siang. Beliau pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun.” Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibu al Barra’, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun tersebut. Rahasianya adalah tujuh butir kurma yang biasa dikonsumsi Rasulullah saw.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol, dan melancarkan pencernaan.

Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna. Caranya bisa juga dengan shalat.

Rasulullah saw bersabda: “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.”

sumber : http://coliq.web.ugm.ac.id/index.php?menu=artdet&art=321&nm=Kesehatan&t=Hidup%20Sehat%20Ala%20Rasulullah%20SAW

Ditulis dalam kesehatan | Leave a Comment »

Dampak kerja malam hari

Ditulis oleh taufik16ma di/pada Oktober 4, 2009

Friday, 02 October 2009 15:47

Bekerja pada malam hari lebih buruk dari merokok, demikian kata peneliti. Benarkan bekerja di malam hari rawan kanker?

Hidayatullah.com
–Agen Penelitian Kanker Internasional (IARC) baru-baru ini memutuskan untuk memasukkan poin mengenai bekerja pada malam hari ke dalam daftar pekerjaan beresiko kanker.

Dalam daftar tersebut juga termasuk sinar ultraviolet, karbon hitam, mesin pembuangan uap, zat-zat pewarna berbahaya, dan sebagainya. Dengan demikian karyawan memiliki hak untuk mendapat kompensasi bagi resiko pekerjaan tambahan, saat mereka diharuskan lembur pada malam hari.

Ilmuwan Jepang dari University of Occupational and Environmental Health mengadakan sebuah eksperimen.

Mereka mengamati 14.000 orang selama 10 tahun. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa karyawan yang bekerja dengan jam kerja fleksibel lebih banyak  menderita kanker prostat dibanding mereka yang bekerja dengan jam kerja standar.

Pakar Denmark dari Institute of Cancer Epidemiology memeriksa 7.000 wanita berusia 30 hingga 54 tahun. Diketahui bahwa para wanita yang bekerja setidaknya selama enam bulan lamanya pada malam hari, memiliki peluang lebih tinggi mengidap tumor payudara.

Richard Stevens, seorang profesor dari Connecticut University Health Center, merupakan ilmuwan pertama yang mengamati interkoneksi antara bekerja malam hari dan kanker payudara pada tahun 1987.

Ilmuwan menyelidiki alasan merebaknya kanker payudara pada tahun 1930-an, yang saat itu banyak perusahaan mulai menetapkan 24 jam kerja penuh sehari dengan mempekerjakan wanita sebagai buruh siang dan malam.

Mereka yang sering lembur malam hari juga memiliki resiko lebih tinggi terkena penyakit jantung. Para ilmuwan dari University of Milan memeriksa 22 ahli logam pria yang memiliki jam kerja berbeda setiap minggunya.

Pengamatan harian kerja jantung mereka menunjukkan bahwa rata-rata detak jantung dan aktivitas sistem yang berhubungan dengan hormon, tidak mengalami perubahan saat bekerja pada malam hari. Dengan kata lain, orang-orang tersebut sadar dan bekerja, walaupun kerja jantung dan pembuluh darah berkurang seperti layaknya saat mereka tidur. Hal ini berarti aktivitas ketegangan dan fisik berada di luar batas kekuatan mereka saat malam hari.

Kepala penelitian Rafaello Furlan percaya bahwa tubuh manusia tidak dapat beradaptasi dengan aktivitas malam hari, yang sesudahnya dapat berakibat pada penyakit jantung. Namun, para ilmuwan belum mengetahui pastinya mekanisme penyakit ini akan muncul pada saatnya.

Ilmuwan menyampaikan beberapa teori yang menjelaskan dampak negatif bekerja malam hari terhadap kesehatan manusia.

Pertama dan yang terpenting, seorang manusia merupakan mahkluk yang hidup pada siang hari. Bekerja pada malam hari dan tidur saat siang hari mengganggu bioritme harian dan rentan terkena berbagai penyakit.

Organisme manusia memproduksi melatonin, yaitu hormon tidur pada malam hari. Hormon ini mengatur ritme biologis sama seperti hormon-hormon lainnya. Apabila seseorang tidak tidur pada malam hari, sistem akan mengalami penyimpangan. Gaya hidup malam hari membuat sulit diri sendiri.

Penduduk di wilayah utara sering menderita polar tension syndrome (sindrom yang sering dialami penduduk kutub utara), yang diakibatkan musim dingin gelap yang panjang, kurangnya vitamin, kondisi iklim yang buruk, dan musim panas yang sangat jarang. Kekurangan sinar matahari merupakan cobaan serius bagi seorang manusia. Akan menyebabkan depresi, seringkali tidak diketahui oleh si penderita.

Konsekuensi negatif bekerja malam hari tidak berakhir di sini. Nausea, gangguan lambung, sakit perut, diare, dan hilangnya nafsu makan, merupakan berbagai keluhan umum yang sering dialami karyawan yang bekerja malam.

Tidur yang baik sangat dianjurkan agar fungsi perut bekerja normal. Kerja malam membingungkan jam kerja biologis tubuh, untuk mensinkronisasikan konsumsi makanan dan pencernaan. [val/pravda.ru/erb/www.hidayatullah.com]

Ditulis dalam kesehatan | Bertanda: | 1 Komentar »

FENOMENA SEDEKAH

Ditulis oleh taufik16ma di/pada September 22, 2009

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

 

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa pada harta kita terdapat bagian untuk fikir miskin.betapa sempurnanya Agama islam,andai saja semua umat islam sadar akan pentingnya zakat dan sedekah mungkin keadaan orang fakir dan miskin tidak akan begitu parah sepeti yang kita lihat saat ini.

 

Seperti yang di anjurkan oleh Rarulullah saw ketika di tanya tentang sedekah’

Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, sedekah apakah yang paling mulia?

 Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Rasulullah saw sangat menyarankan agar sedekah kita salurkan kepada orang2 yang membutuhkan terutama atas orang-orang yang tidak mampu dan banyak tanggungan.

Dalam riwayat yang lain,Rasul menganjurkan agar kita bersedekah walaupun tanpa sepengetahuan orang lain.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tujuh macam orang yang akan dilindungi Allah pada hari yang tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya – kemudian ia menyebutkan hadits dan didalamnya disebutkan – orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.” Muttafaq Alaihi.

 

Setiap amalan bergantung pada niatnya jika niatnya tulus ikhlas karena Alllah swt,ada ataupun tidak ada orang maka kita tetap berusaha untuk bersedekah.

 

Apakah yang paling baik untuk kita sedekahkan?

Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik, kecuali (Allah) Yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah sampai menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya. (Shahih Muslim No.1684)

Jadi dalam bersedekah hendaklah kita memilaih yang terbaik yang kita miliki,janji Allah adalah pasti jika kita memberi yang terbaik maka Allah pun akan memberi yang terbaik untuk kita.

 

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini sungguh menggelikan dimana beberapa orang kaya lebih suka bersedekah dengan  mengumpulkan orang-orang untuk mengambil sedekahnya dirumahnya,sehingga sedekah yang awalnya bertujuan baik yaitu membantu fakir miskin berakhir menyedihkan,bahkan ada yang menimbulkan kematian.

Melihat kondisi masyarakat indonesia yang kebanyakan adalah warga kurang mampu,demi beras lima kilo mereka rela berdesak-desakan berjam-jam.MasyaAllah..

Andikan kita mau mengamalkan hadist ini:

 orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq Alaihi.)

mungkin permasalahan tersaebut bisa di atasi.

Para orang kaya tinggal minta data fakir miskin ke ketua RT/RW setempat kemudian sembakonya di bagikan kepada ketua RT dan ketua RT yang menyalurkannya,InsyaAllah akan lebih tepat sasaran dan tanpa menjatuhkan korban.

:)

-Taufik  Ismail-

Ditulis dalam ISLAM, corat-coret | 3 Komentar »

LEBARAN DAN KEBUDAYAAN HALAL-BIHALAL

Ditulis oleh taufik16ma di/pada September 21, 2009

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM..
Dari Anas bin Malik r.a. meriwayatkanbahwasanya Rasulullah saw.bersabda,”Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung silaturahmi(kepada kaum kerabatnnya).”
(HR.Bukhori,Bab orang yang diluaska razkinya,5986)
Betapa pentingnya silaturahmi sehingga Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk tetap menjaga keutuhan tali silaturahmi. Di indonesia kebudayaan silaturahmi antar sesama tetangga sudah hidup bertahun-tahun,hal ini sesuai dengan karakter orang timur yang senang berinteraksi dengan sesama dan saling bertoleransi,dan hidup bersama.
Momen labaran adalah saat yang paling di tunggu oleh sebagian besar warga indonesia.di saat lebaran ada satu kebudayaan silaturahmi yang seakan-akan hukumnya “diharuskan”,betapa tidak hampir semua sanak keluarga berkumpul menjadi satu,biasanya diadakan dirumah orang yang paling tua dari suatu keluarga,bahkan persiapan untuk acara kumpul-kumpul ini di siapkan jauh hari sebelum lebaran datang.
Halal bihalal begitulah diindonesia disebut.mungkin istilah ini berasal dari bahasa arab namun kebiasaan HALAL BIHALAL tidak ada di arab.budaya ini adalah kreativitas bangsa indonesia yang mengumpulkan seluruh anggota keluarga dan sank saudara diwaktu lebaran atau bulan syawal.
Dari halal bihalal ini ada banyak manfaat yang bisa di ambil,diantaranya:
Bisa semakin mempererat persaudaraan,antara satu anggota keluarga yang belum kenal menjadi saling kenal di acara tersebut,bisa saling berbagi pengalam hidup dengan anggota keluarga yang lain,dll.
belakangan ini budaya halal bihalal bukan hanya dilakukan dalam suatu keluarga,namun semakin meluas di instansi-instansi,perkumpulan dan organisasi.bahkan budaya ini juga di lakukan oleh warga indonesia yang bukan muslim.
Semakin populernya kubudayaan halal-bihalal ini semoga menjadi media untuk semakin mempererat tali silaturahmi antar sesama umat islam..

Taufik Ismail

Ditulis dalam ISLAM, corat-coret | Bertanda: | 2 Komentar »

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi Lainnya

Ditulis oleh taufik16ma di/pada September 3, 2009

Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009 lalu. Beberapa media massa sempat memberitakan bahwa forum ini mengharamkan Facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya. Ternyata tidak sesederhana itu. ***(Teks Arab tidak disertakan. Redaksi)

Dewasa ini, perubahan yang paling ngetop dengan terciptanya fasilitas komunikasi ini adalah tren hubungan muda-mudi (ajnabi) via HP yang begitu akrab, dekat dan bahkan over intim. Dengan fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP.

Lebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Tren hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar “main-main” atau justru lebih ekstrim dari itu. Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap “syndrome usia,” hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT (pendekatan) untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana hukum PDKT via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, friendster, facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah (pertunangan)?

Jawaban:

Komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.

Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada ‘azm (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.

(Kitab-kitab rujukan: Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763,  Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99, Hasyiyah al-Jamal vol. IV hal. 120, Is’adur Rafiq vol. II hal. 105, Al-Fiqhul Islamy vol. IX  hal. 6292, I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209, I’anatut Thalibin vol. III hal. 260, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. I hal. 203, Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197)

Pertanyaan kedua:
   
Mempertimbangkan ekses negatif yang ditimbulkan, kontak via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain) dengan ajnaby (bukan muhrim), bisakah dikategorikan atau semakna dengan khalwah (mojok) jika dilakukan di tempat-tempat tertutup?

Jawaban:

Kontak via HP sebagaimana dalam deskripsi di atas yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah tidak dapat dikategorikan khalwah namun hukumnya haram.

(Beberapa kitab yang dirujuk: Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Al-Qamus al-Fiqhy vol. I hal. 122, Bughyatul  Mustarsyidin hal. 200, Asnal Mathalib vol. IV hal. 179, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah vol. IXX hal. 267, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 467, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. IV hal. 107-107, Hasyiyah Jamal vol. IV hal. 121, Is’adur Rafiq vol. II hal. 93, dan Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 121 I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209)

sumber:
http://www.nu.or.id/page.php

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

Pengajian: Puasa dan Kejujuran

Ditulis oleh taufik16ma di/pada September 3, 2009

Oleh: Ustadz Agustianto, MA

Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari
tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai
kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi
realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah
berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum
yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih
mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan
dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh
dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan
hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang
halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering
mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram
saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan
orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan
kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda
penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.

Nabi muhammad Saw pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir
zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal
dan mana yang haram. (HR Muslim).

Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan,
bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti
menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita
temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam
mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan
dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan
moralitas.

Era reformasi yang telah berlangsung lebih lebih sepuluh tahun, praktek
kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat
kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa
merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa
tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab
(mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang
terkandung di dalam puasa Ramadhan.

Puasa melatih kejujuran
Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah
(rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu
berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah
SWT.
Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur.
Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak
terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum,
karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu
apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu
dilihat Allah swt..
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil
menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun
diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang
yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang
benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan
ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat
seperti itu, takut puasa batal.
Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih
untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh
Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri
seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan
terbangun sifat kejujuran.
Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi,
lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli,
suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.
Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri
seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan
kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan
terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin
tegaknya keadilan dan kebenaran.
Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya,
seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega
melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu
meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial.
Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang
tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material
pribadi atau golongannya.
Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang
penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak
disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah
didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya.
Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut
berlaku jujur dan tidak bohong
Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi
penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat
jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia
tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab
jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau
tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri
prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh
penghayatan.
Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat
signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi,
penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.
Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari
ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan
kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai
bagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah
disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi
terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh
oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.
Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan
masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung
secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka
berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling
jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan
dalam kehidupan bangsa kita.
Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik
keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk
membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.
Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era
materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat
ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman
yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus
dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang
dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak
semakin parah.

Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun
semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan
ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan
didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama
satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara
serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran
kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan
yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas
puasa orang tersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang
dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang
berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan,
berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang
yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan
kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.
Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau
sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa
yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa
hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu
peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya
ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa Cara awalnya ialah
dengan mengikuti Training ESQ atau Pesantren Qalbu. Hasilnya sudah
terbukti secara sifnifikan di mana-mana. Banyak BUMN omzetnya meningkat
secara signifikan setelah para direktur dan managernya ikut training ESQ
(Emosional Spitual Quentiont). yang dilaksanakan oleh Ary Ginanjar
Agustian.

sumber:
http://www.pesantrenvirtual.com

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

PENTINGNYA TAKLIM DI RUMAH

Ditulis oleh taufik16ma di/pada Juli 27, 2009

“Tidak berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumsh Allah,mereka membaca kitab Allah,saling mengajarkanya sesama mereka,kecuali diturunkan kepada mereka sakinah,rahmat menyirami mereka,para malaikat mengerumini mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya”(Hr.Muslim,Abu Daud)

Dahulu pada zaman Rasulullah saw belum ada yang namanya pesantren,sekolah, perguruan tinggi dan tempat –tempat pendidikan yang lain,tetapi kenapa bisa bermunculan hafidz qur’an,ulama,ahli hadist baik anak-anak atau wanita,padah yang selalu menghadiri majelis Rasulullah saw adalah kaum lelaki.

Hal ini terjadi karena di rumah para sahabat r.hum hidup ta’lim di rumah-rumah mereka.setiap mendapatkan satu ilmu dari Rasullah saw mereka menceritakan apa yang di dapat dari Rasulullah saw kepada para istri dan anaknya,sehingga istri dan anak-anak  bisa menjadi alim dan alimah.

Para Sahabat r,hum sangat paham bahwa tempat yang paling baik adalah masjid,sehingga mereka berusaha menjadikan rumah-rumah mereka seperti masjid dengan menghidupkan amalan-amalan masjid di rumah mereka.mereka saling mendakwah sesama anggota keluarga,saling menguatkan untuk perkara iman mereka juga saling belajar dan mengajar antar sesama keluarga

Para sahabat r,hum berupaya bagaimana caranya suasana Agama bisa hidup di rumah mereka.saat ini yang  terjadi pada rumah kita orang islam adalah sebaliknya,kita berusaha agar rumah kita di penuhi barang-barang dunia yang kurang bermanfaat,tiap hari di putar musik keras-keras,TV yang tidak pernah mati,barang-barang antik yang membuat kita sibuk dengannya danmelupakan Allah (ASTAGHFIRULLAH)

Apabila tradisi yang ada di rumah para sahabat r,hum kita hidupkan lgi di rumah-rumah kita InsyaAllah dari rumah-rumah orang muslim saat ini bisa memunculkan para ahli agama,alim dan alimah,hafidz ,hafidzah dan para mujahid.

Maksud di adakan taklim di rumah adalah agar di rrumah kita ada nur(cahaya amalan agama islam)

Manfaat dari taklim di rumah:

  1. Allah swt akan memberikan rahmad,sakinah dan keberkahan pada ahli rumah/keluarga.
  2. Akan wujud suasana agama di rumah
  3. Ahli keluarga akan tahu nilai-nilai ahirat dan amalan agama
  4. Mengeluarkan kebesaran MAAL(harta) dan memasukkan kebesaran AMAL shalih dalam hati.
  5. Akan ndapat keyakinan bahwa amal Rasul dapat menyelesaikan masalah kita di dunia dan dakhirat.
  6. Rumah kita akan di penuhi nur yang cahayanya sampai ke langit.
  7. Malaikat akan masuk dan syaitan-syaitan akan keluar dari rumah
  8. Akan menghancurkan 40 majelis maksiat
  9. Akan di jauhkan dari fitnah dajjal

Kerugian apabila tidak menghidupkan taklim di  rumah

  1. Beramal ikut nafsu,
  2. Ahli keluarga tidak mengetahui nilai-nilai akhirat karena di dalam rumah tidak ada mudzakarah tentang iman dan amal shalih.
  3. Di rumah banyak syaitan,karena suara musik lebih sering terdengar dari pada bacaan-bacaan ayat suci Al-qur’an,gambar-gambar dan patung banyak di simpan di dalam rumah
  4. Maksiat merajalela,antar anggota keluarga menjadi kurang rukun,sering terjadi pertengkaran

Itu semua akan terjadi  karena rumah yang tidak hidup amalan agama dan taklim di rumah maka ahli keluarga tidak akan tahu pentingnya amalan agama.

Cara membuat taklim rumah:

  1. Di rumah hendaklah kita memiliki kitab atau buku ta’lim(spt:fadhilah amal),jika tidak ada bisa menggunakan terjemahan Alqur’an atau buku-buku agama yang di dalam nya terkandung firma Allah dan sabda Nabi(hadits).menurut alim ulama sebaik-baiknya harta yang di simpan di rumah adalh Alqur’an dan buku ta’lim(fadhilah amal).
  2. Waktu ta’lim di tetapkan,pilih waktu dimana seluruh anggota keluarga berkumpul.
  3. Tempat ta’lim ditentukan istiqomah satu tempat saja dan dikondisikan sebagaimana suasana masjid(bebas dari perabot mewah/patung/gambar mahluk)
  4. Baca ta’lim dengan istiqomah setiap hari satu kali.
  5. Baca ta’lim secara bergiliran setiap hari mulai bapak/suami,ibu/istri,anak-anak,dst.
  6. Baca buku ta’lim secara berurutan,setelah dibaca di tandai dan dilanjutkan kembali besoknya.
  7. Semua fadhilah di baca,diutamakan baca fadhilah shalat dan kisah sahabat.
  8. Sekali-kali diterangkan adab-adab ta’lim sebelum ta’lim dimulai.
  9. Selain ta’lim dengan membaca kitab,taklim rumah di isi dengan  mudzakarah sifat-sifat sahabat,halaqah tajwid Qur’an,masa’il,muzakarah wanita,dst.
  10. Waktu taklim sekurang-kurangnya 10 menit.

Selesai ta’lim ditutup dengan doa kifarah majelis: “Subnallakallahumma wabihamdika

Ditulis dalam ISLAM | Bertanda: | 2 Komentar »

sedikit tenta Nabi Muhammad saw

Ditulis oleh taufik16ma di/pada Juli 27, 2009

Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya’kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta’ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.
Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: “Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat”, tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.
Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.
Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.
Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.
Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!”. Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani – Majma’uz-Zawa’id 8:275)

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »