BELAJAR HIDUP

Belajar menghidupkan Sunnah Nabi

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘ulama’

Profil KHM. Basori Alwi

Posted by taufik16ma pada Januari 1, 2012

Nama lengkapnya adalah Muhammad Basori Alwi Murtadlo. Lahir di Singosari, 15 April 1927 dari pasangan bahagia, Kiai Alwi Murtadlo dan Nyai Riwati. Sejak kecil, beliau belajar Al-Qur’an pada ayahnya, Kiai Murtadlo. Lantas berguru kepada Kiai Muhith, seorang penghafal Al-Qur’an dari Pesantren Sidogiri (Pasuruan) lalu kepada kakak kandungnya, Kiai Abdus Salam. Dia juga belajar kepada Kiai Yasin Thoyyib (Singosari), Kiai Dasuqi (Singosari) dan Kiai Abdul Rosyid (Palembang). Sewaktu tinggal di Solo pada tahun 1946 – 1949, beliau sempat belajar di Madrasah Aliyah dan mondok di Ponpes Salafiyah Solo. Bahkan, ketika sudah berkeluarga dan tinggal di Gresik, beliau masih menyempatkan diri untuk mengaji kepada Kiai Abdul Karim. Adapun lagu-lagu Al-Qur’an dia peroleh dari Kiai Damanhuri (Malang) dan Kiai Raden Salimin (Yogya). Selanjutnya, dia memperdalam lagu Al-Qur’an melalui kaset rekaman para qari’ Mesir, khususnya Syaikh Shiddiq Al-Minsyawi.

Ustadz Basori Alwi, demikian singkat orang banyak memanggilnya. Saat ini usianya sudah lanjut, 78 tahun. Tak banyak orang memanggilnya Kiai Basori. Entah apa sebabnya. Mungkin karena terkait dengan keahlian ustadz dalam melagukan Al-Qur’an. Sebab, pelantun Al-Qur’an biasanya dipanggil ustadz. Apalagi, hingga kini, Ustadz Basori masih berkiprah di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) tingkat Nasional dalam Dewan Hakim. Atau mungkin, kata “Ustadz” yang menurut Al-Khuli, diartikan “Profesor”, sehingga memang pas bila gelar “Profesor” di bidang pembelajaran Al-Qur’an, disematkan pada diri Kiai Basori Alwi sebagai ulama ahli Al-Qur’an yang berpengaruh di dalam maupun luar negeri.

Basori muda, sebelum belajar di Ponpes Salafiyah Solo, pernah mondok di Ponpes Sidogiri dan Ponpes Legi di Pasuruan antara tahun 1940 – 1943. Selain mengkaji ilmu-ilmu agama dengan kitab-kitab klasik khas pesantren salaf, Basori Muda juga tekun belajar Bahasa Arab. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Mahmud Al-Ayyubi dari Iraq, Sayyid Abdur Rahman bin Syihab Al-Habsyi (sewaktu di Solo), Syaikh Ismail dari Banda Aceh, Ustadz Abdullah bin Nuh dari Bogor (sewaktu di Yogyakarta). Guru beliau yang disebut paling akhir ini adalah pengasuh Ponpes Al-Ghozali dan redaktur siaran berbahasa Arab di RRI Yogyakarta ketika masih menjadi ibukota darurat RI.

KHM. Basori Alwi merupakan sosok praktisi dunia pendidikan yang profesional dan berpengalaman. Buktinya, ia telah malang melintang berkhidmat di lembaga-lembaga pendidikan, baik umum maupun agama, formal maupun informal. Beliau mulai menjadi pengajar sekitar tahun 1950, saat ia tinggal di kawasan Ampel, Surabaya, di rumah pamannya. Disana, beliau ditawari mengajar di SMI Surabaya dan PGA Negeri Surabaya (1950 – 1953) dan di PGAA Negeri Surabaya (1953 – 1958). Sejak itulah, jiwa kepengajarannya terasah terus. Ketika hijrah ke Gresik setelah mempersunting gadis di sana, beliau masih mengajar di Surabaya.

Setelah lama merantau, pada tahun 1958, beliau kembali ke Singosari. Di sini beliau meneruskan tradisi mengajarnya dengan menjadi guru di PGAA Negeri Malang (1958 – 1960), dosen Bahasa Arab di IAIN Malang (1960 – 1961, sekarang UIN Malang). Di samping mengajar di lembaga formal, beliau aktif mengajar bacaan dan lagu Al-Qur’an di berbagai tempat. Sampai akhirnya, pada 1978, beliau mendirikan Pesantren yang dinamainya Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) di Singosari, Malang.

Kiprah dan andil besar KHM. Basori Alwi di bidang pendidikan Al-Qur’an sungguh luar biasa. Benar, jika beliau disebut pakar Al-Qur’an karena memang Ustadz Basori tiada henti mengajar Al-Qur’an dan mendakwahkannya. Dahulu, Ustadz memang seorang qari’ (pelantun Al-Qur’an bil-ghina) tingkat nasional, bahkan internasional, walaupun tak seterkenal Abdul Aziz Muslim. Dia ibarat pendekar yang sudah malang melintah di dunia tilawah. Bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan (alm.) Fuad Zain, dia pernah diundang untuk membaca Al-Qur’an di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair dan Libya). Hal itu berlangsung selepas peristiwa pemberontakan G30S PKI tahun 1965. “Saat berkunjung ke Saudi, kami berkesempatan melakukan ibadah haji, dan itu adalah haji pertama saya” kata Ustadz Basori.

Tak pelak lagi, Ustadz Basori tercatat sebagai tokoh kaliber nasional dan internasional di bidang Tilawatil Qur’an. Beliau salah satu pendiri Jam’iyatul Qura’ (Organisasi para qari’ dan penghafal Al-Qur’an), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. Ustadz juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional. Sampai sekarang, beliau tidak pernah absen menjadi juri, baik pada MTQ dan STQ Nasional, maupun MTQ tingkat provinsi. Di samping itu, beliau dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003).

Selain terjun di dunia pendidikan, Ustadz Basori adalah sosok aktifis organisasi kemasyarakatan yang ulet dan selalu konsen pada dunia dakwah Islamiyah. Tercatat, beliau pernah memegang tampuk kepemimpinan Gerakan Pemuda Ansor (1955 – 1958).

KHM. Basori Alwi, bisa dibilang, adalah sosok ulama yang komplet. Faseh berceramah dan penulis yang produktif. Beliau banyak menulis buku dan risalah ringkas, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Karya-karya beliau, antara lain :

- Mabadi’ Ilm At-Tajwid (Pokok-Pokok Ilmu Tajwid) dilengkapi Kamus “Miftahul Huda” (Panduan Waqaf dan Ibtida’).
- Madarij Ad-Duruus Al-Arabiyah (Pelajaran Bahasa Arab, 4 Jilid).
- Dalil-Dalil Hukum Islam (Terjemahan Matan Ghayah Wat Taqrib, 2 Jilid).
- Al-Ghoroib Fii Ar-Rasm Al-Utsmany (Seputar bacaan dan tulisan asing dalam Mushaf Rasm Utsmany)
- Ahadiits Fi Fadhailil Qur’an Wa Qurra’ihi (Hadis-hadis tentang keutamaan Al-Qur’an dan para pembacanya)
- Terjemahan Syari’atullah Al-Khalidah (Karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki)
- Pedoman Tauhid (Terjemahan Aqidatul Awwam)
- Pengantar Waraqaat Imam Al-Haramain
- Membahas kekuasaan (Terjemahan Al-Nasaih al-Diniyah Wa Al-Washaya Al-Imaniyah)
- Al-Miqat Al-Jawwi Li Hajji Indonesia (Miqat Udara bagi Haji Indonesia)
- Manasik Haji
- Pedoman Singkat Imam dan Khotib Jum’at
- Kumpulan khutbah Jum’at
- At-Tadlhiyah, Petunjuk singkat tentang qurban
- At-Tartil Waa Al-Lahn, risalah tentang Tepat dan Salah Baca dalam Al-Qur’an
- Bina Ucap (Mahraj dan Sifat Huruf)
- Bina Ucap (Hamzah Washol dan Hamzal Qotho’)
- Dzikir Ba’da Shalat Jum’at
- Zakat dan Penggunaannya
- Hukum Talqin dan Tahlil
- Tarawih dan Dasar Hukumnya
- Dan beberapa kitab dan risalah lainnya.

Dari sekian banyak karya ilmiah Ustadz Basori, dapat disimpulkan, bahwa pemikiran beliau amat dinamis dan berwawasan luas, mencakup berbagai bidang kehidupan umat beragama. Dengan berkembangnya dunia tehnologi modern, beliaupun tak ketinggalan zaman. Kiai Basori beserta para santrinya melahirkan rekaman melalui kaset, MP3, dan VCD yang memuat panduan pembelajaran Al-Qur’an, praktek metode pengajaran, teori-teori ilmu tajwid dan sebagainya. Semua produk itu di buat di studio pesantren.

Dengan demikian, Ustadz Basori Alwi memang layak menyandang predikat kiai. Keikhlasannya, amal ibadahnya, perilakunya sehari-hari, mendukung ke-kiai-annya. Dan jika seorang kiai disyaratkan memiliki kiprah yang kongkret di masyarakat, seperti pesantren atau pengajian-pengajian, Kiai Basori Alwi memiliki semuanya.

Kiai Basori dan pesantrennya, PIQ, telah menjadi salah kiblat yang penting dalam hal tilawah. PIQ menjadi pusat pembinaan para qari dan qariah dari kota dan kabupaten seluruh Jawa Timur. Tak hanya itu, Kiai Basori, sejak dulu juga menjadi rujukan untuk Qira’ah Bit-Tartil atau membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, khususnya di beberapa tempat di Jawa Timur. Baik masyarakat umum, maupun masyarakat pesantren merasa perlu datang kepadanya untuk memintanya mengoreksi (mentashih) bacaan mereka dalam hal fasohah (pengucapan makhraj dan sifat huruf).

Paling tidak, ada tiga pesantren yang mempercayakan para gurunya untuk digembleng bacaan Al-Qur’annya oleh Kiai Basori, yang selanjutnya mereka tularkan kepada para santrinya. Ketiga pesantren itu adalah Pondok Sidogiri (Pasuruan), Ponpes As-Salafiyah Asy-Syafi’iyah Asembagus (Situbondo), dan sebuah pesantren di Lumajang. Selain itu, beliau rutin mengajar masyarakat umum di kota Probolinggo, Leces, Pacet (Mojokerto), Blitar, Sidoarjo, dan Malang.

Sekalipun Kiai Basori telah lanjut usia, kakek 23 cucu ini, hingga kini masih tetap aktif mengajar, baik di dalam maupun di luar pesantren. Rupanya, beliau tak pernah bisa melupakan pesan Kiai Muhith kepadanya, “Li kulli syai’in zakaatun, wa zakaatul ilmi at-ta’Liim”. Artinya, segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat ilmu adalah mengajar.

sumber:piqsingosari

Ditulis dalam ISLAM, pondok pesantren, profile tokoh | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pondok pesantren di indonesia

Posted by taufik16ma pada Desember 23, 2011


Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tentu memerlukan orang-orang yang ahli dalam bidang agama islam agar kualitas umat islam bisa ditingkatkan.

Peran untuk meningkatkan kualitas keislaman dari penduduk indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari Pondok Pesantren,mulai dari jaman kerajaan islam sampai jaman milenium ini sudah ribuan ahli agama ditelurkan oleh pondok pesantren yang ada di seluruh indonesia.

berikut ini adalah beberapa website pondok pesantren di indonesia,semoga sedikit informasi ini bisa membantu para orang tua atau siapapun yang mencari pondok pesantren untuk menuntut ilmu aga islam.

1.Direktorat pendidikan diniyah dan pesantren DEPAG RI,berisi informasi seputaran pondok pesantren di indonesia
2.PONPES TEBU IRENG,jombang
3.Pondok Modern Darussalam Gontor
4.PONPES Langitan,tuban JATIM
5.PONPES darunnajah,jakarta
6.PONPES assalam kutai barat
7.PONPES SURYALAYA
8.PONPES Assalamsurakarta,JATENG

9.AN-NUR Al Murtadlo,Malang

10.Pesantren ilmu Al-Qur’an,singosari malang
11.Pondok Pesantren Daar El-Qolam,di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten
12.Ponpes Asy Syafi’iah Nahdatul Wathon,di Pulau Lombok

InsyaAllah data ini akan terus di update..
saya sangat senang kalo ada yang mau menambahi,

Ditulis dalam ISLAM, pondok pesantren | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Profil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah)

Posted by taufik16ma pada Juni 14, 2010

Romo Kyai Haji
Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh
Al-Mahbub Rahmat Alam
Banyak pengunjung atau tamu yang datang ke Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah) sering bertanya-tanya tentang profil Pengasuh Pondok. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut kami sajikan tentang profil Pengasuh Pondok yang berada di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur No. 10, RT. 07 / RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang 65175. Yaitu Romo Kyai Ahmad.

Nama lengkap beliau adalah Kyai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam. Para santri, riadlah dan jama’ah biasa menyebut Romo Kyai Ahmad. Beliau lahir di Kabupaten Malang pada 14 Ramadhan 1362 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 14 September 1943. Persisnya di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Ayah beliau bernama (almarhum) Kyai Shaleh. Sedang ibu beliau bernama (almarhumah) Hajjah Amanatul Fadhliyah.
Latar Belakang Pendidikan
Semasa sekolah di bangku PGA Turen, Malang, Romo Kyai ngaji langsung dengan (almarhum) Kyai Shaleh. Yaitu, orangtua kandung Romo Kyai sendiri yang juga adalah tokoh penggerak dan perintis Islam di desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sedang Ayah Romo Kyai sendiri, menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Kabupaten Jombang.
Menurut Pak Kisyanto, salah seorang panitia Pondok Pesantren Salafiyah Bi Ba’a Fadlrah, semasa sekolah di PGA, hati Romo Kyai selalu merasa gelisah ketika menyaksikan orang-orang sibuk ngurusi dunia. ”Beliau selalu berpikiran nasibku dan nasib teman-teman tidak sama. Lha lek aku mati sak wayah-wayah, ya’ opo? Sak lawas-lawase, yo kunu umure dowo. Karena itu beliau selalu bertanya-tanya. Bagaimana mungkin ada orang yang lebih mementingkan dunia, sedang urusan akhirat jadi terbengkalai. Padahal, yang namanya urusan akhirat itu, perkaranya sangat besar,” kata Pak Kisyanto yang akrab disapa Pak Kis.
Ketika Romo Kyai dalam kondisi gelisah itulah, beliau kemudian melakukan istikharah, meminta petunjuk kepada Allah. ”Aku ora mondok nandi-nandi lek ora oleh petunjuk. Aku ora gelem sing nafsu,” ujar Romo Kyai seperti yang ditirukan oleh Pak Kis.
”Yang jelas, beliau melakukan istikharah untuk mencari jalan bagaimana caranya agar bisa selamat di akhirat nanti itu dalam kondisi seperti setengah tidur setengah sadar. Termasuk dalam persoalan mencari tempat dan guru yang dapat membawa kepada keselamatan akhirat. Hasilnya, beliau mendapat petunjuk yang pas mengenai tempat yang dimaksud. Yaitu, Pondok Pesantren Bahrul ’Ulūm Sidorangu, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur,” ujar Pak Kis.
Karena itu, dari PGA, beliau kemudian diantar Abahnya untuk mondok di Pondok tersebut. Di pondok inilah, beliau menimba ilmu dibawah bimbingan (almarhum) Hadhratu as-Syaikh al-Mukarram Kyai Haji Sahlan Thālib ra. Yaitu pada tahun 1961-1963.
”Tapi, meskipun sudah selesai, namun beliau masih sering berkunjung ke Pondok Pesantren Bahrul ’Ulūm Sidorangu, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur,” kata Pak Kis.
Yang jelas, lanjut Pak Kis, ketika belajar, beliau tidak banyak memperhatikan pelajaran. Sebab, yang diperhatikan adalah masalah akhirat. ”Jadi, sejak kecil, perhatian beliau selalu kepada akhirat. Nah, ketika belajar, yang dingat-ingat beliau adalah urusan akhirat. Beliau selalu membanding-bandingkan dengan urusan akhirat. Tapi, maksudnya adalah untuk khusnudzan,” papar Pak Kis.
Terkait dengan perjalanan masa kecil itulah, imbuh Pak Kis, Romo Kyai bercerita tentang alasan mengapa beliau selalu berpikir tentang akhirat. ”Ya, kuncoku, umure dowo-dowo. Nek umurku pendek, lha siapa yang menolong aku nang akhirat?” kata Romo Kyai, seperti yang diungkapkan kepada Pak Kis.

Masa Kecil Romo Kyai
Masa kecil hingga remaja, beliau habiskan di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Beliau tumbuh dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang tak pernah lepas dari nilai-nilai agama Islam. Apalagi kedua orangtua beliau memang dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat ketat dalam syari’at agama. Nilai-nilai penghormatan yang tinggi terhadap syari’at Sayyidul Mursalin Sayyidina Rasulullah saw yang pernah diajarkan oleh kedua orangtuanya, begitu melekat dalam pribadi Romo Kyai.
Tentang praktik dhawuh Nabi saw yang berbunyi: ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari – Muslim). Dhawuh Nabi saw ini, begitu melekat dalam pribadi Romo Kyai. Sehingga di kalangan keluarga, sejak kecil Romo Kyai dikenal sebagai pribadi yang sangat pendiam. Beliau tidak banyak bicara. Apalagi bicara yang tidak jelas arahnya. Selain pendiam, beliau kalau berjalan selalu menunduk.
Senang Memuliakan Tamu
Memasuki usia remaja, Romo Kyai telah menunjukkan kemampuan spiritual yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Termasuk dengan para santri yang belajar di Pondok Pesantren Bahrul ’Ulūm dibawah bimbingan (almarhum) Hadhratu as-Syaikh al-Mukarram Kyai Haji Sahlan Thālib. Meskipun mempunyai kemampuan spiritual yang cukup menonjol, tapi dalam kehidupan sehari-hari, beliau sangat santun terhadap siapa pun. Beliau juga sangat sederhana, tidak pernah menonjolkan diri dan selalu bersikap apa adanya.
Menurut Bapak Haji Mughni, kepada siapa pun, termasuk kepada para santri — baik yang usianya lebih tua atau yang masih muda sekalipun — dan para tamu yang pernah bertemu, Romo Kyai selalu boso (memperhatikan etika sopan-santun dalam berbicara).Beliau tidak pernah menggunakan bahasa ngoko (berkata kasar alias tidak memperhatikan etika sopan-santun dalam berbicara).
Sebaliknya, kata Bapak Haji Mughni, jika beliau ingin menyapa atau memanggil orang lain, beliau selalu menggunakan panggilan yang terbaik. Setidaknya sampeyan * ) . Di samping itu, sikap, tindakan dan cara beliau berbicara, selalu terukur dan terstandar. Sesuai dengan situasi dan kondisi psikologis lawan bicaranya. Beliau tidak pernah membeda-bedakan dalam bersikap kepada siapa pun.

Selain sangat memperhatikan masalah etika, seluruh perilaku beliau dalam kesehariannya, selalu sesuai dengan aturan syariat. Misalnya dari segi makanan, berpakaian dan lain-lain.
”Kasih sayang beliau terhadap semua makhluk ciptaan Allah Azza wa Jalla, bisa digambarkan melalui kasih sayang beliau terhadap santri, jamaah dan para tamu yang datang ke pondok,” ujar Bapak Haji Mughni.
Bukti kalau Romo Kyai sayang kepada semua makhluk, imbuh Bapak Haji Mughni, bisa dilihat dari sikap Romo Kyai dalam menghadapi berbagai permasalahan yang sedang terjadi. Baik yang berhubungan dengan masalah pribadi, keluarga, santri, jama’ah maupun yang menyangkut urusan pondok, umat dan negara.
”Contohnya dalam kasus ketika beliau difitnah telah menyebarkan ajaran sesat, membuat Ka’bah sendiri atau dituding memelihara jin dan prewangan untuk membangun pondok. Dalam menghadapi fitnah seperti itu, beliau tidak pernah marah. Secara lahir, beliau malah menganjurkan para santri untuk melakukan introspeksi diri. Beliau malah memaafkan siapa pun yang telah memfitnah dan membeci beliau,” ungkap Bapak Haji Mughni.
”Tidak hanya itu,” lanjut Bapak Haji Mughni, ”Romo Kyai malah mendoakan orang-orang yang telah memfitnah beliau. Bahkan, beliau malah sangat ingin menghajikan orang-orang yang pernah membenci dan memfitnah beliau.”
Yang jelas, tukas Bapak Haji Mughni, Romo Kyai sangat senang bisa memuliakan semua tamu yang datang ke pondok. Sejak tahun 1963 sampai awal 1990-an, beliau selalu membuka lebar pintu rumahnya untuk menerima dan menemui setiap tamu yang datang. Mulai dari ba’da Shubuh hingga jam dua malam. Beliau istirahat hanya untuk shalat. Ketika tamu sudah pulang sekalipun, Romo Kyai sering menangis. Istilahnya sekarang klayu, kata Pak Kis.

”Lho, kulo niku, nek enten tamu, senajan kulo sakit, ning kaya-kaya-o waras. Lalu langsung saya temui tamunya. Ketika tamunya manthuk (pulang), saya ya jadi sakit lagi,” ujar Romo Kyai, seperti diungkapkan oleh Pak Kis.
Namun, dengan semakin berkembangnya pembangunan pondok dan makin banyaknya jumlah tamu yang datang ke pondok, imbuh Bapak Haji Mughni, beliau sudah tidak bisa menemui tamu lagi. ”Bahkan, jama’ah dan santri sekalipun, mendapat perlakuan yang sama. Jika mereka ingin bertemu secara fisik dan salim kepada beliau, hanya bisa dilakukan setelah shalat ’Ied,” tandas Bapak Haji Mughni.
Menyinggung tentang sikap hidup Romo Kyai, Bapak Haji Mughni mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari, beliau selalu menerima apa pun yang ada pada hari ini. Bagi beliau, apa yang ada hari ini, adalah yang terbaik untuk beliau. Jadi, sebetulnya, beliau tidak mempunyai keinginan atau rencana tertentu.
”Termasuk dalam masalah membangun pondok ini. Aslinya, bukanlah keinginan beliau. Itu adalah keinginan jamaah dan santri,” tukas Bapak Haji Mughni. Tapi, yang mengarahkan dari segala bentuk, motif, waktu dan tempatnya adalah Romo Kyai berdasarkan hasil istikharah beliau.
———————————————————————————————————–
* ) Kata sampeyan adalah istilah yang dipakai masyarakat Jawa Timur untuk menyebut atau memangil lawan bicaranya. Arti dari kata sampeyan itu sendiri adalah kata ganti untuk menyebut pihak kedua (lawan bicara): Anda, Saudara atau Kamu. Di kalangan masyarakat Jawa Timur, kata sampeyan biasanya digunakan oleh orang yang usianya lebih muda ketika ia akan berbicara dengan orang yang usianya lebih tua. Kata tersebut dipakai sebagai bentuk penghormatan atau pemuliaan terhadap orang yang usianya lebih tua. Sedang kepada orang yang usianya lebih muda, sebagian besar masyarakat Jawa Timur, sering menggunakan istilah ko-en, untuk menyapa lawan bicaranya. Adapun dalam adat istiadat yang berlaku di Jawa Timur, istilah ko-en itu, jika digunakan oleh orang yang usianya lebih tua kepada orang muda, dikenal dengan istilah ngoko. Yaitu berbicara ’kasar’ tanpa memperhatikan etika sopan santun.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Keteladanan Imam Hanafy dalam Soal Jabatan

Posted by taufik16ma pada Desember 12, 2009

Di tengah carut-marutnya dunia hukum dan kepemimpinan di negeri kita, ada baiknya kita menengok kembali kisah kehidupan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafy, seorang ulama besar, yang sangat terkenal ketinggian ilmu dan akhlaknya. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada 80 Hijriah (699 M) dan wafat pada tahun 150 Hijriah (767 M), tepat saat Imam al-Syafii lahir. Sering dikatakan, Imam yang satu pergi, datang Imam yang lain. Nama asli beliau sejak kecil adalah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah.

Sejak kecil, Imam Abu Hanifah hidup di tengah keluarga pedagang. Setelah dikenal sebagai seorang yang alim sekali pun, dia juga menjalankan perniagaan. Kehidupan Imam Hanafy pada masa hidupnya mengetahui peristiwa pergantian Kepala Negara dari tangan banu Umayyah ke tangan banu Abbasiyah. Beliau dilahirkan pada  masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan; kemudian ketika tahun 127 Hijriah, Kepala Negara jatuh di tangan Marwan bin Muhammad Al-Ja’dy (dari Banu Umayyah yang ke 14). Dan inilah akhir pemerintahan Banu Umayyah.

Ketika itu, Gubernur di Iraq selaku wakil Kepala Negara dijabat oleh Yazid bin Amr bin Hurairah Al Fazzary. Selaku Gubernur, ia berhak mengangkat seseorang yang di pilihya untuk menjabat suatu jabatan tinggi di bawah kekuasaannya.  Pada suatu saat Imam Hanafy telah dipilih dan ditunjuk menjadi Kepala Urusan Perbendaharaan Negara (Baiitul-Mal). Tetapi pengangkatan itu ditolak oleh Abu Hanifah. Sampai berulang-kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat yang tinggi itu kepada beliau, namun tetap ditolak.

Pada lain saat, Gubernur Yazid menawarkan lagi pangkat Qadli (penghulu negara) kepada Imam Hanafy. Tetapi beliau bersikap menolak tawaran itu. Melihat sikap Imam Hanafy, Gubernur mulai tidak senang.  Mulailah muncul kecurigaan terhadap Sang Imam. Gerak-geriknya mulai diamati. Kemudian pada suatu hari, Sang Imam mulai diancam hukum cambuk dan penjara oleh penguasa.  Tetapi sewaktu mendengar ancaman tersebut,

Sang Imam hanya menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekali pun–andai kata-aku sampai di bunuh olehnya.”

Suatu hari,  Gubernur Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq dan dikumpulkan di muka istananya. Di antara yang datang, ada Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, Dawud bin Abi Hind dan lain-lainnya. Mereka masing-masing lalu di beri pangkat (kedudukan) resmi oleh Gubernur. Tapi,  Imam Hanafy  tidak datang. Padahal, Sang Imam diberi jabatan tinggi, sebagai kepala “Tata Usaha” Gubernuran yang bertugas menandatangani semua surat-surat resmi yang keluar dan yang bertanggung jawab atas uang perbendaharaan negara yang di keluarkan dari Gubernuran. Semua surat resmi tidak akan dapat dilangsungkan keluar jika belum distempel (cap) dari tanda tangan beliau, dan uang dari perbendaharaan Negara (Baitul-Mal) tidak akan mungkin dikeluarkan sepeser pun, jika belum di tanda tangani (distempel) oleh beliau. Tetapi jabatan yang sepenting dan setinggi itu, tidak diterima oleh Imam Abu Hanifah.

Gubernur Yazid bersumpah:  “Jika Abu Hanifah tidak sudi menerima angkatan ini, niscaya akan dipukul dia.”   Para ulama yang mendengar sumpah Gubernur itu, lalu datang berduyun-duyun kepada Imam Hanafy untuk menyampaikan harapan mereka,  supaya beliau bersedia menerima jabatan yang diberikan itu. Tapi, Sang Imam tetap kokoh dengan pendiriannya. Beliau tetap bersikeras menolak pengangkatan dari Gubernur itu.  Akhirnya, sang Imam ditangkap dan dipenjara oleh polisi negara selama dua Jumat (dua minggu) dengan tidak dipukul. Kemudian – sesudah dua Jumat –baru dipukul/ di dera empat belas kali. Sesudah itu baru dibebaskan.  Dalam riwayat lain dikatakan, suatu saat  Imam Hanafy diangkat lagi oleh Gubernur Yazid bin Hurairah menjadi Qadli (Hakim) negeri di kota Kufah. Ttetapi dengan bersikeras ia tetap menolak. Karena itulah, ia ditangkap lagi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di dalam penjara — karena ia tetap menolak pengangkatan itu – maka ia dijatuhi hukuman 110 kali cambuk. Hukuman itu dicicil, tiap hari 10 kali cambukan. Akhirnya, sang Imam dilepaskan kembali dari penjara sesudah merasakan 110 kali cambuk. Seketika keluar dari penjara, tampak kelihatan mukanya bengkak-bengkak, akibat bekas cambukan. Mengalami semua hukuman itu, Imam Hanafy hanya berucap: “Hukuman dunia dengan cemeti itu lebih baik dan lebih ringan bagiku daripada cemeti di akhirat nanti.”

Ujian kedua kepada Sang Imam datang pada tahun 136 Hijriah, dimasa Kepala Negara dijabat oleh Abu Ja’far Al-Manshur, saudara muda dari Abul Abbas As-Saffah, pendiri Bani Abbasiyah. Ketika itu Imam Hanafy berumur sekitar 56 tahun. Beliau dikenal sebagai orang besar yang gagah berani, ahli fikir yang hebat dalam memecahkan soal-soal yang bertalian dengan hukum-hukum agama.

Menurut riwayat,  pada suatu hari Imam Hanafy mendapat panggilan dari baginda Al-Manshur di Baghdad. Sesampai di sana, ternyata sang Imam diangkat menjadi Hakim (Qadli) Kerajaan di Baghdad. Tawaran jabatan yang setinggi itu oleh beliau ditolak. Maka, Al-Manshur bersumpah dengan keras, bahwa ia harus menerima jabatan itu. Imam Hanafy pun juga bersumpah,  tidak akan sanggup memegang jabatan itu. Sumpah itu terjadi berulang kali, sehingga seorang pegawai kerajaan mendekati Sang Imam dan berujar: “Apakah guru tetap menolak kehendak baginda, padahal baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan kepada guru?.”

Imam Hanafy dengan tegas menyatakan : “Amirul mu’minin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar kifarat sumpah saya.”

Oleh karena Imam Hanafy tetap menolak jabatan dari Kepala Negara, maka ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad, sampai masa yang telah ditentukan oleh Kepala Negara.     Perlu dijelaskan, bahwa pada masa itu ulama yang terkemuka di Kufah, ada tiga orang dan antara mereka itu ialah Imam Ibnu Abi Laila.

Menurut riwayat, pada suatu hari Imam Hanafy dikeluarkan dari penjara, karena mendapat  panggilan dari baginda Al-Manshur. Baginda menyerahkan jabatan Qadli (Hakim) negara kepada Abu Hanifah. Tetapi, lagi-lagi  ia tetap menolaknya. Baginda lalu kepada: “Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?.”

Sang Imam menjawab:  “Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu’minin! Wahai Amirul Mu’minin, takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang, maka bagaimana saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!.”

Baginda berkata: “Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!.”

Imam  menjawab: “Ya Amirul mu’minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang Hakim yang pendusta? Di samping itu, saya ini adalah seorang maula yang dipandang rendah oleh bangsa Arab, dan bangsa Arab tidak akan rela  diadili oleh seorang golongan maula seperti saya ini.” Karena tetap menolak, sang Imam dijebloskan kembali ke dalam penjara.

Ada riwayat yang menyebutkan, Abu Ja’far Al Manshur memanggil  Imam Abu  Hanifah, Imam Sufyan Ats Tsauri dan Imam Syarik An Nakha’y untuk datang menghadap di hadapan baginda.

Setelah mereka bertiga menghadap, masing-masing diberi   kedudukan dan diberi surat pengangkatan.

Kepada Imam Sufyan baginda berkata : “Ini penetapan engkau untuk menduduki Qadli di kota Bashrah maka itu berangkatlah ke sana!” , dan kepada Imam Syarik baginda berkata : “ Ini penetapan engkat untuk menduduki Qadli ibu kota saya dan sekitarnya, maka itu laksanakanlah !”  Adapun Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan apapun. Baginda memerintahkan kepada pengawalnya, agar mengantarkan mereka ke tempat masing-masing, dan berkata pula kepada pengawalnya : “Barangsiapa menolak jabatan yang telah saya berikan ini, maka pukullah dia seratus kali pukul dengan cemeti.”

Imam Syarik menerima jabatan itu, dan Imam Sufyan lalu melarikan diri ke Yaman, dan Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan dan tidak pula melarikan diri. Sebab itu ia tetap dimasukkan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman seperti yang telah diperintahkan oleh baginda Al Manshur. Yakni, setiap pagi, di dalam penjara, ia dicambuk dan leher sang Imam dikalungi dengan rantai besi yang berat.

Ada riwayat yang menyebutkan, al-Manshur pun pernah menggunakan jasa Ibu Abu Hanifah yang berusia lanjut untuk membujuk anaknya, agar bersedia menerima tawaran jabatan yang diberikan Kepala Negara.  Pada setiap pagi, sang Ibu datang membujuk anaknya.  Tetapi segala macam bujukan dan daya upaya sang ibu tadi senantiasa ditolak dengan keterangan yang baik.

Pada suatu hari sang ibu pernah berkata kepada anaknya: “Wahai Nu’man! Anakku yang kucintai! Buanglah dan lemparlah jauh-jauh pengetahuan yang telah engkau punyai itu. Karena tidak ada lain yang kau dapati selama ini, melainkan penjara, pukulan, cambuk dan rantai besi itu.!”

Perkataan sang Ibu yang sedemikian itu, hanya dijawaboleh sang Imam dengan lemah lembut dan senyuman manis: “Oo, ibu! Jika saya menghendaki akan keridhaan Allah SWT seemata-mata dan memelihara ilmu pengetahuan yang telah saya dapati, saya tidak akan memalingkan pengetahuan yang selama ini saya pelihara kepada kebinasaan yang dimurkai oleh Allah SWT.

Demikianlah, sang Imam tetap gigih dalam pendiriannya, meskipun harus menghadapi hukuman yang sangat memilukan. Setiap pagi, ia selalu menerima hukuman seberat itu. Tapi, al-Manshur tidak puas dengan hukuman yang dibjatuhkannya. Maka, suatu ketika, Imam Hanafy dipanggil oleh baginda supaya menghadapnya. Kemudian ia ia datang menghadap. Ketika itulah sang Imam disuguhi segelas minuman beracun. Tak lama, sesudah kembali ke dalam penjara, sang Imam menghadap kepada Allah SWT. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!.”

Beliau wafat di usia 70 tahun. Wafat di penjara, dalam kehidupan yang ia pi8lih sendiri, karena menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Hasan bin Imarah, yang memimpin prosesi pemandian jenazah sang Imam, berkata: “Mudah-mudahan Allah mengasihani engkau dan mengampuni semua kesalahan engkau, wahai orang yang senantiasa merasakan lapar selama tiga puluh tahun! Demi Allah, sesungguhnya engkau seorang yang menyusahkan orang banyak di masa kemudian engkau!.”

Tentu, sikap sang Imam memamg sangat luar biasa. Ia  tidak tergoda oleh kekuasaan. Bahkan rela menerima hukuman ketimbang memegang jabatan tinggi yang ditawarkan padanya. Ia  tidak gila jabatan. Sang Imam bersyukur dan bangga dengan kedudukannya sebagai seorang berilmu. Beliau tidak mengharamkan jabatan itu. Tetapi, beliau enggan menerima jabatan itu untuk dirinya.

Sepanjang riwayat yang boleh dipercaya, bahwa ketika telah merasa bahwa dirinya akan sampai ke ajalnya, sang Imam  bersujud kepada Allah. Seketika itu wafatlah beliau dalam bersujud dengan khusyu’nya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Al-Khaizaran, Baghdad.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan teladan dari Kisah Sang Imam Abu Hanifah!  Islam tidak mengharamkan jabatan dan harta. Tetapi, Imam Abu Hanifah memberikan keteladanan, bahwa dunia adalah hal ”remeh” di matanya.   Akhirat adalah kehidupan dan tujuan yang hakiki.  (Disarikan dari buku Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab karya K.H. Moenawar Cholil (Jakarta: Bulan Bintang, cet. kesembilan, 1994)). [Depok, 7 Desember 2009/INSISTS]

Ditulis dalam ISLAM | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

Posted by taufik16ma pada November 3, 2009

Di kalangan penuntut ilmu di pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan terkenal di kalangan mereka karana sebagian besar daripada sanad keilmuan para ulama Nusantara (Malaysia, Indonesia dan Fathoni) bersambung kepada ulama besar ini. Dan di kalangan para ulama ia sangat terkenal sebagai ulama seorang pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam perselisihan dengan Wahabi.

Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Khalilurrahman al- Kiranawi al-Hindi al-Utsmani (lahir 1226H/1811M, wafat malam Jumaat, 22 Ramadan 1308H/2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan memperkenalkan kepada pemerintah Makkah. Seterusnya memberi ijin untuk Syeikh Rahmatullah membuka Madrasah Shaulatiyah.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haramain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari nasab yang mulia, ahlul bait Rasulullah melalui keturunan Sayyiduna Hasan, cucu kesayangan Rasulullah. Berdasarkan kepada kitab “Taajul-A’raas”, juzuk 2, mukasurat 702 karya al-Imam al-’Allaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib ‘Ali bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja’faar al-’Aththaas. Nasabnya adalah seperti berikut :

Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syeikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi s.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matUllah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhaab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az- Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al- Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul.

Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H/1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia kemudian dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi‘i, merangkap Syeikh al- Haram yaitu “pangkat” ulama tertinggi yang mengajar di Masjid Al-Haram yang diangkat oleh Syeikh al-Islam yang berkedudukan di Istanbul, Ibukota Khilafah Islam Turki Ottoman.

Beliau sangat terkenal, dan berawal dari itulah maka beliau diberi berbagai gelar dan julukan antaranya al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syeikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syeikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi – Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam – wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik).

Murid beliau Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rahman” antara lain menulis : “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (7 qiraah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiraah 7. Kerana cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qari untuk mengajar ilmu ini, beliau khawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajar terus.”

Murid-muridnya

Diantara ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah :

·Kyai Nawawi Banten
·Kyai Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi
·Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni menurut satu riwayat
·Kyai Muhammad Saleh Darat
·Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
·Sayyid Utsman Betawi                       <— Mufti Betawi
·Tuan Hussin Kedah
·Syeikh Ahmad Yunus Lingga,
·Sayyid Abdullah az-Zawawi, Mufti Syafiiyyah, Mekah,
·Datuk Hj Ahmad Ulama Brunei,
·Tok Wan Din, nama yang sebenar ialah Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,
·Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni
·Syeikh Abdul Hamid Kudus,
·Kyai Muhammad Kholil Bangkalan Madura.
·Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,
·Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani,
·Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdur Rahman bin ‘Utsman al Fathoni
·Tuan Kisa-i’ Minangkabawi atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh.
·Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus
·Syeikh Utsman Sarawak
·Syeikh Abdul Wahab Rokan dan ramai lagi.

Selain itu banyak lagi ulama di Nusantara yang bersambung sanad keilmuan mereka kepada murid Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yaitu Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dan Syeikh Ahmad al Fathoni. Bahkan Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni juga merupakan murid Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi. Dan murid Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara sangatlah banyak.

Karya-karya Beliau

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang ulama yang produktif. Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan kitab yang sangat banyak, diantara nya :

1. al-Futuhatul Islamiyyah;
2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;
3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;
4. al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;
5. ad-Durarus Saniyyah fi raddi ‘alal Wahhabiyyah (Mutiara-mutiara bernilai tinggi yg membawa penolakan terhadap faham Wahhabi) <– memuat kumpulan surat2 dan risalah Muh Bin Abd Wahab yang berisi takfir (mengkafirkan) serta hujjah yang membantah paham2 Wahhabi yg mengkafirkan : ziarah kubur, tawasul, tabaruk, istighosah
6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;
7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul ‘Abidin;
8. Hasyiah Matan Samarqandi;
9. Risalah al-Isti`araat;
10. Risalah I’raab Ja-a Zaidun;
11. Risalah al-Bayyinaat;
12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;
13. Shirathun Nabawiyyah;
14. Mukhtasor Jiddan, Syarah Ajrumiyyah;
15. Fathul Jawad al-Mannan;
16. al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;
17. Manhalul ‘Athsyaan;

Setelah pengabdiannya di Makkah, Saiyyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani berangkat ke kota Madinah, karana suasana di kota Makkah kurang aman (karena pergolakan gerakan Wahabi) dan beliau wafat di kota Madinah pada 1304H/1886M dan dimakamkan disana. Semoga Allah sentiasa mengasihi dan merahmati Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani

Ditulis dalam ISLAM | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.